8 Mei 2017

Ansor Riau "Sowan 1000 Kyai"

Meranti - Gerakan Pemuda Ansor Provinsi Riau secara resmi meluncurkan program #Sowan1000Kyai pada pelaksanaan Diklatsar Banser di Desa Semukut, Kecamatan Pulau Merbau Kabupaten Kepulauan Meranti. Sekitar 1000 Banser dan Ansor se Riau akan sowan (mendatangi) Kyai kyai kampung pengamal Islam Aswaja untuk dijadikan pembimbing spiritual Banser dan Ansor.


Lewat program sederhana ini, Ketua GP Ansor Riau Purwaji mengatakan Ansor ingin meneguhkan tugas dan kewajibannya sebagai benteng Islam Ahlusunnah wal Jamaah, pengawal ulama dan NKRI. "Ini juga membuktikan bahwa Ansor dan Banser itu dekat dengan para ulama, penjaga ulama dan dibimbing para ulama," terangnya.

Purwaji mengatakan, setiap Banser dan Ansor yang telah menyelesaikan pendidikan dasar wajib menemui dan memilih kyai di kampungnya untuk dimohonkan kesediannya dijadikan pembimbing Banser. "Pulang diklat langsung cari dan temui kyai NU di kampungnya, mohon doa restu dan sekaligus mohon kesediaannya menjadi pembimbing," katanya.

Paling sedikit dari program ini akan dapat didata 1000 kyai kampung pengamal Islam Aswaja di seluruh Riau. Mereka ini adalah para kyai yang akan secara khusus dijaga Banser dan tidak boleh diganggu oleh siapapun dalam menjalankan amaliah ala NU di desanya.

"Sekarang ini semakin berkembang faham yang suka menyalahkan tata cara beribadah umat Islam. Yasinan tahlilan bidah, maulid Nabi bidah dan lain lain. Semua itu sangat mengganggu dan kita pastikan keberadaan Banser untuk mencegah intervensi atau intimidasi kelompok kelompok baru semacam itu," tegas Purwaji.


Mengawal Ulama, Membela Agama dan Menjaga Ke-Indonesiaan

Selamat dan sukses untuk Yasayan Pondok Pesantren Annur Kalierang, Selomerto, Wonosobo yang telah mewisuda murid SMK dan MTs Annur dan melaksanakan Khatmil Qur'an ke 18. Semoga keluarga besar Annur utamanya Ibu Nyai Hjh Nur Faizah dan dzuriyah almaghfurlah KH Nurrudin Alhafidz, jajaran pengurus dan para santri selalu mendapatkan keberkahan.

Ucapan terimakasih yang tiada terhingga kepada Goes Ribad dan DR. KH. Abdul Ghofur Maimun Zubaer yang telah memberikan banyak wejangan kepada kami keluarga besar GP Ansor Kab. Wonosobo umumnya dan Ranting Ansor Desa Kalierang khususnya.


Perjuangan di NU dan Ansor memang berat, akan selalu ada orang yang tidak suka dengan kebijakan perjuangan NU, itu karena mereka tidak mengerti. Kita memang berbeda dengan cara-cara mereka, utamanya paham2 dan gerakan baru yang hari ini mengusik rasa kebangsaan kita.

Sejak Ansor didirikan oleh tokoh2 NU pada tahun 1934 adalah merupakan kebutuhan utk mengawal perjuangan NU dan perjuangan Bangsa Indonesia. Peran Ansor luar biasa baik dalam masa perjuangan merebut kemerdekaan dan pada saat mempertahankan kemerdekaan. Bahkan pada saat meletusnya G30S/PKI, NU dan Ansor melalui Bansernya selalu berada digarda terdepan dalam upaya menumpas gerakan komunis pada waktu itu.

Jadi sikap NU akan selalu jelas terkait dengan perjuangan kebangsaan dan keagaaman dalam konteks mewujudkan Islam Rahmatallilngalamin. Kita tidak ingin citra Islam Indonesia ini terpuruk dan negara ini hancur seperti negara2 timur tengah sana.

Ada etika ketika kita berpolitik, ada etika ketika kita syiar. Kita harus bisa secara bijak mana yang perlu secara fulgar di syiarkan melalui ruang publik dan mana yang harus dijaga sehingga hanya perlu melalui ruang privacy. Kita harus jaga dan mengerti betul penggunaan dua ruang tersebut sehingga syiar kita tercapai tetapi juga tidak mencederai orang lain atau anak bangsa yang lain. Kita adalah muslim yang hidup di Indonesia, maka menjaga ke Indonesia-an itu penting.

Kunci yang harus dipegang adalah bahwa jangan sampai perjuangan kebangsaan mengesampingkan perjuangan keagamaan, demikian juga sebaliknya perjuangan keagamaan jangan sampai mengesampingkan perjuangan kebangsaan. Cintai agama ini, cintai pula negeri ini. Cintai Islam, cintai pula NKRI.

-----ada hal yg menarik dlm sarasehan kemarin, mungkin ini adalah jawaban Allah SWT atas kerisauan saya secara pribadi maupun secara organisasi. Alhamdulillah melalui forum tersebut sudah terjawab. Maturnuwun sanget Goes Ribad. -----

Oleh: Santoso (Ketua PC GP Ansor Wonosobo)

GP Ansor Berterimakasih Pada Pemerintah Terkait Pembubaran HTI

Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengucapkan terima kasih kepada pemerintah atas respons cepat yang dilakukan pemerintah untuk membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Yaqut menyebut langkah pemerintah untuk membubarkan HTI merupakah hasil perjuangan dari berbagai pihak, termasuk GP Ansor. Organisasi itumendesak pemerintah untuk segera menindak tegas ormas-ormas yang memiliki keinginan untuk membubarkan negara dan Pancasila.

"Kami dari GP Ansor berterima kasih kepada pemerintah atas respons cepatnya menangkap kegelisahan di masyarakat atas gerakan-gerakan kelompok yang ingin mengubah Pancasila dan NKRI," kata Yaqut kepada CNNIndonesia.com, Senin (8/5).

Pembubaran HTI oleh pemerintah, lanjut Yaqut juga harus disertai oleh upaya pemerintah untuk mengantisipasi perpindahan massa dari HTI untuk tetap bisa menyalurkan pendapatnya atau tujuannya.

"Yang lebih penting lagi setelah pembubaran ini ke mana orang-orang ini akan bergabung, menyalurkan, atau memperjuangkan tujuan dan agenda-agendanya," ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto menyatakan pemerintah perlu secara tegas mengambil upaya hukum untuk membubarkan organisasi masyarakat Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Ormas tersebut dinilai bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.

"Mencermati berbagai pertimbangan di atas serta menyerap aspirasi masyarakat, pemerintah perlu mengambil langkah-langkah hukum secara tegas untuk membubarkan HTI," kata Wiranto, Senin (8/5) di Kemekopolhukam, Jakarta.

Sebagai badan hukum, HTI menurut Wiranto, tidak melaksanakan peran positif untuk memgambil bagian dalam proses pembangunan untuk mencapai tujuan nasional.

HTI,kata Wiranto juga terindikasi kuat telah bertentangan dengan tujuan, asas, dan ciri yang berdasarkan Pancasila UUD 1945 seperti yang diatur dalam Undang-undang nomor 17 tahun 2013 tentang Ormas.

Sumber: CNN.com


Ketum GP Ansor: HTI Harus Segera Dibubarkan, Tidak Punya Jasa Apapun Bagi Negeri

Ketua Umum GP Ansor Yaqout Cholil Qoumas mengungkapkan bahwa HTI harus segera dibubarkan karena dinilai anti terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia dan aktif mengampanyekan negara khilafah.

"Sejauh ini belum ada tindakan nyata untuk membubarkan HTI yang jelas-jelas ingin mendirikan negara khilafah," kata Yaqut di Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu (3/5/2017).

Menurut Yaqut sangat berbahaya membiarkan organisasi yang bisa mengancam keutuhan NKRI tetap eksis, bahkan berkembang subur di Tanah Air.

Apalagi, HTI menjadikan kampus-kampus yang notabene merupakan lembaga yang mencetak calon pemimpin bangsa ke depan sebagai basis dan sasaran utama penyebaran pengaruh mereka.

Beberapa waktu lalu digelar Deklarasi Khilafah yang diadakan Badan Kerohanian Islam Mahasiswa Institut Pertanian Bogor bekerjasama dengan HTI chapter kampus IPB.

"Saya juga bingung apa sih yang ditunggu sehingga penanganan HTI ini terkesan lamban," kata Yaqut yang juga anggota DPR.

Menurut dia, pembiaran terhadap perkembangan HTI jelas memunculkan pertanyaan bahkan spekulasi bahwa HTI merupakan mainan pihak internal negara untuk kepentingan mereka, seperti untuk mengonsolidasi umat Islam untuk merebut kekuasaan.

"Agar tidak muncul spekulasi itu, ya secepatnya HTI harus dibubarkan. Toh mereka itu nggak ngaruh dan nggak punya jasa sama sekali pada Republik ini," kata Gus Tutut, sapaan akrabnya.

Menilai kampus merupakan tempat yang paling mudah dimasuki gerakan radikal, Ansor kini mulai masuk ke dunia kampus untuk menyuarakan persatuan dan kedamaian NKRI sekaligus menyadarkan mahasiswa terhadap bahaya radikalisme dan terorisme.

Pada Sabtu (29/4/2017), GP Ansor menggelar Ansor Day Festival di kampus Universitas Negeri Jakarta. Di dalam kegiatan yang menghadirkan sejumlah artis itu diangkat pula isu tentang radikalisme dan terorisme.

"Ini baru langkah awal. Mudah-mudahan seterusnya bisa masuk kampus lain supaya sama-sama kita bendung kelompok radikal anti-NKRI," kata dia.

Sumber: suara.com

Resmi, Pemerintah Bubarkan HTI

Pemerintah memutuskan membubarkan dan melarang kegiatan yang dilakukan oleh organisasi kemasyarakatan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto mengatakan, kegiatan HTI terindikasi kuat bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945, sebagaimana diatur dalam UU Ormas.

"Mencermati pertimbangan itu, maka pemerintah perlu ambil langkah tegas untuk membubarkan HTI," ujar Wiranto saat memberikan keterangan pers di Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Senin (8/5/2017).

Selain itu, Wiranto juga menyebut bahwa keberadaan HTI secara nyata menimbulkan benturan di masyarakat dan membahayakan keutuhan bangsa Indonesia.

Jumpa pers tersebut dihadiri Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly, Kepala Polri Jenderal (Pol) Tito Karnavian dan pejabat lainnya.

Juru Bicara HTI Ismail Yusanto sebelumnya meminta pihak yang menyebutkan HTI anti-Pancasila agar membuktikan pernyataannya.

"Sekarang kalau kami dibilang anti-Pancasila, coba bisa tunjukkan enggak di mana kami menyebut anti-Pancasila?" ujar Ismail kepadaKompas.com, Rabu (3/5/2017).

Ismail juga mengaku bingung atas wacana pembubaran HTI.

"Kami tidak tahu apa masalahnya sehingga harus dibubarkan? HTI itu bukan organisasi ilegal, tapi berbadan hukum," ujar Ismail.

"Kalau mengikuti peraturan, disebutkan bahwa pencabutan sebuah organisasi harus melalui pengadilan. Ya tapi sebelum ke sana, kami harus tahu dahulu apa yang menjadi persoalan," lanjut dia.

Ismail sekaligus mengonfirmasi bahwa HTI hanya terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM dan tidak terdaftar di Kementerian Dalam Negeri.

Meski demikian, menurut dia, hal itu sudah sesuai dengan peraturan yang ada yakni Pasal 12 Nomor (2) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan.

sumber: KOMPAS

Gus Tutut: HTI Tamat Sebentar Lagi

Gerakan masif Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) makin hari kian meresahkan masyarakat, namun begitu ormas yang selalu gembar-gembor mengusung jargon khilafah di Indonesia tersebut tidak panjang lagi usiannya. Ormas yang sangat menentang tegaknya Pancasila ini semakin tidak tahu diri, HTI tidak menyadari bahwa kelompok mereka adalah pendatang baru di Indonesia atau bisa dibilang ormas tamu. Seyogyanya tamu harusnya HTI mengikuti aturan main yang diberlakukan tuan rumah, yaitu Indonesia.

HTI tidak mau mengikuti aturan main yang diberlakukan sang tuan rumah, tuan rumah yang mempunyai aturan khusus untuk tamu seperti misalnya tamu tidak boleh merokok sebab sang tuan rumah yang tidak terbiasa mengisap bau rokok dengan alasan kesehatan. Kurang ajarnya, aturan untuk tidak merokok sudah diberlakukan namun sang tamu tetap saja memaksa untuk merokok dengan alasan macam-macam. Itu artinya sang tamu sangat tidak tahu diri dan melanggar aturan yang diberlakukan tuan rumah. Padahal tuan rumah sudah jelas-jelas bilang, rokok tidak baik untuk kesehatan, sebab membahayakan tubuh.


Namun sang tamu tetap ngotot nggak mau tahu. Bahayanya sang tamu malah berkeinginan mendirikan pabrik rokok dirumah sang tuan rumah itu. Jika sang tamu tetap ngotot mendirikan pabrik rokok tersebut dengan rokok cap “Ok Oce“, mau nggak mau tuan rumah harus angkat kaki dari rumahnya sendiri.

Ini sangat kurang ajar kan? Tentu sangat kurang ajar, sebab sudah diberikan izin untuk bertamu, tapi tidak mau mengikuti aturan tata tertib yang dibuat tuan rumah. Ehh malah ngrampok rumah sang pemilik rumah untuk pendirian pabrik rokok cap “Ok Oce“.

Hal tersebut sama persis dengan apa yang dilakukan HTI saat ini. Sudah diizinkan datang ke Indonesia, kemudian mendirikan organisasi. Namun HTI tidak mau mengakui Pancasila sebagai dasar Ideologi negara. Malah menghina Pancasila dan mau menggantikannya dengan khilafah.

HTI, kamu waras??? Kalau HTI waras ya tidak waras karena HTI hanya sebuah nama, yang tidak waras itu para pendiri dan pelakunya. Jadi wajar saja jika banyak kelompok elemen masyarakat menolak keberadaan HTI di Indonesia.


Terutama Gerakan Pemuda (GP) Ansor yang selalu getol menolak dan melawan gerakan radikal HTI yang sangat membahayakan NKRI. GP Ansor berada digarda depan dalam melawan ideologi alias paham radikalisme yang dibawa oleh HTI.

Ketum GP Ansor Sebut HTI Usianya tidak akan lama lagi

Pengurus Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor berkomitmen mempertahankan ideologi Pancasila sebagai dasar negara. Pihaknya siap menjadi garda terdepan melawan kelompok radikal yang ingin mengubah Indonesia menjadi negara Islam. Hal itu dianggap bertentangan karena negara ini menganut ideologi Pancasila.

Menurut Ketua Umum PP GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas, ideologi Pancasila harus tetap dipertahankan demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jika ada kelompok radikal atau intoleran yang macam-macam, pihaknya mengaku siaphead to head. Pernyataan Yaqut tersebut disampaikan saat acara Tasyakuran Harlah ke-83 Gerakan Pemuda Ansor dengan tema “Meneguhkan Semangat Kebangsaan, Membawa Khazanah Islam Nusantara untuk Perdamaian Dunia” di Kantor PP GP Ansor Jakarta.

“Ansor siap berhadapan dengan kelompok intoleran, kelompok ideologi impor negara lain yang masuk ke Indonesia,” tegas Yaqut, Sabtu (6/5).

Acara dihadiri Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj, Dewan Penasihat PP GP Ansor KH As’ad Said Ali, Sinta Nuriyah Wahid (Istri Gus Dur) dan Wakil Sekjen DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah.

Pria kelahiran Rembang ini mengemukakan, kesiapan GP Ansor untuk mengadang kelompok intoleran juga atas saran KH Said Aqil Siradj. Bahkan, dia juga menyinggung organisasi masyarakat (Ormas) yang dianggap intoleran. Ormas itu adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Menurut Yaqut, organisasi itu dalam waktu dekat akan mati. “Ini saya disuruh baca pidato pakai teks, kalau tidak bisa ke mana-mana bisa ngomong bubarin HTI. Tenang saja tidak lama lagi HTI akan almarhum,” katanya.

Pihaknya tak ingin Indonesia hancur gara-gara kelompok radikal. Dia mencontohkan, Suriah saat ini banyak terjadi teror karena ada kelompok intoleran yang ingin mendirikan khilafah di sana. Imbasnya, saat ini Suriah sedang dilanda konflik perang dengan ISIS.

“Kami tidak akan membiarkan keruntuhan kerajaan Sriwijaya dan Majapahit terulang kembali dan tak membiarkan Indonesia luluh lantah seperti Suriah,” tutup dia.

Sumber: beritasatu.com


Gerakan Pemuda Ansor Mendesak Pemerintah Segera Bubarkan HTI dan Ormas Anti-Pancasila

Gerakan Pemuda Ansor mendesak agar pemerintah segera membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Alasan Ansor, HTI anti terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan aktif mengampanyekan negara khilafah.

"Sejauh ini belum ada tindakan nyata untuk membubarkan HTI yang jelas-jelas ingin mendirikan negara khilafah," kata Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas, di Jakarta, Rabu (3/5/2017).

Yaqut mewanti-wanti apabila HTI dibiarkan berkembang bisa mengancam keutuhan NKRI. Apalagi, HTI menjadikan kampus-kampus sebagai basis penyebaran pengaruh mereka.

"Saya juga bingung apa sih yang ditunggu sehingga penanganan HTI ini terkesan lamban," kata Yaqut.

Menurut dia, "pembiaran" terhadap perkembangan HTI jelas memunculkan pertanyaan bahkan spekulasi bahwa HTI merupakan "mainan" pihak internal negara untuk kepentingan mereka, seperti untuk mengonsolidasi umat Islam untuk merebut kekuasaan.

"Agar tidak muncul spekulasi itu, ya secepatnya HTI harus dibubarkan. Toh mereka itu gak ngaruh dan gak punya jasa sama sekali pada republik ini," kata Yagut.

Namun dalam siaran pers pada 16 April 2017, HTI menyebut bahwa perjuangan mereka, sebagaimana diajarkan Rasulluwah saw., merupakan bentuk kecintaan kepada Indonesia.

“Kecintaan HTI pada Indonesia bukan kecintaan yang semu apalagi chauvistik seperti yang dilakukan oleh banyak kelompok nasionalis secular; di satu sisi mereka bilang cinta Indonesia, namun di sini lain justru menggerogoti pilar-pilar penting tegaknya kedaulatan negeri ini,” demikian siaran pers itu menyebutkan.

Menurut HTI, kelompok nasionalis sekuler itulah yang justru membiarkan berbagai kebijakan pro asing dan membiarkan lahirnya aturan-aturan yang jelas-jelas sangat merugikan negara. Padahal, sebut HTI, semua itu terbukti telah membawa Indonesia pada jurang kehancuran.

sumber: Tirto.co.id


29 Januari 2017

Sarasehan Banser X-23 Satkoryon Kalibawang-Kaliwiro di Gunung Lanang

Memasuki awal tahun baru 2017 Banser X-23 Satkoryon Kalibawang-Kaliwiro mengadakan silaturahmi sarasehan bersama di Gunung Lanang Desa Mergolangu Kecamatan Kalibawang untuk mendiskusikan tentang berbagai masalah bencana alam yang tengah melanda di sekitar kabupaten Wonosobo, Ahad siang tadi (29/1).

Kasatkoryon Banser X-23 Kecamatan Kaliwiro sahabat Pawit menuturkan bahwa kegiatan sarasehan dimulai pukul 10.25 sampai sore petang ini, bertempat di rumah bapak Kisno Desa Mergolangu Kecamatan Kalibawang.

"Kegiatan ini dihadiri oleh Banom (Badan Otonom) NU yakni PAC GP. Ansor, IPNU-IPPNU, dan juga Kepala Desa beserta Perangkat Desa, BPD, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh agama".

Kegiatan ini juga dihadiri oleh Muspika Kecamatan Kalibawang, Polsek, dan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah ) Kecamatan Kalibawang untuk memberikan pemahaman tentang kesadaran masyarakat akan pentingnya waspada dan siap siaga terhadap kemungkinan terjadinya bencana alam.

Bapak Soleh petugas BPBD Kecamatan Kalibawang menyampaikan bahwa Banser X-23 Satkoryon Kalibawang-Kaliwiro beserta Banom NU dan pemerintah harus siap membantu masyarakat dan bersama-sama siap bekerjasama dalam hal penanggulangan Bencana Alam ada disekitar wilayah Wonosobo bagian Selatan ini.

"Kita semua harus mampu untuk bahu-membahu untuk menyelesaikan dan melakukan evakuasi jika terjadi bencana". tuturnya.

Bupati Wonosobo Buka Kegiatan PKD dan Diklatsar PAC GP Ansor Wonosobo

Bupati Wonosobo, Eko Purnomo membuka acara Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) Banser yang dilaksanakan oleh PAC GP Ansor Kecamatan Wonosobo di Desa Tlogojati, Jum’at (27/01/2017) kemarin.
Sebelum membuka acara tersebut, terlebih dahulu Bupati menyampaikan sambutannya di hadapan puluhan peserta diklatsar.
Dalam sambutanya, Eko menuturkan betapa Ansor menjadi bagian tak terpisahkan dari konstelasi pemuda di tanah air ini. Tidak berlebihan kiranya, lanjut Eko, jika pemerintah berharap kepada Ansor, Banser yang lahir dari rahim NU, yang mana NU merupakan ormas yang mempunyai jaringan sampai ke pelosok-pelosok negeri ini, untuk turut membangun dinamika dan meningkatkan spirit nasionalisme pemuda.
“Optimalkan peran sebagai mitra pemerintah untuk menciptakan Wonosobo yang aman,” tegasnya.
Hadir membersamai apel tersebut, ketua PCNU Wonosobo, Ngarifin Siddiq. Kepada kader-kadernya tersebut, dia menekankan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
“NU akan selalu siap melakukan apapun jika memang kepentinganya adalah Indonesia,” tegasnya. (DiengPos)