Pimpinan Cabang GP Ansor Wonosobo

Media Informasi Pimpinan Cabang GP Ansor Wonosobo

8 Mei 2017

Gus Tutut: HTI Tamat Sebentar Lagi

Gerakan masif Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) makin hari kian meresahkan masyarakat, namun begitu ormas yang selalu gembar-gembor mengusung jargon khilafah di Indonesia tersebut tidak panjang lagi usiannya. Ormas yang sangat menentang tegaknya Pancasila ini semakin tidak tahu diri, HTI tidak menyadari bahwa kelompok mereka adalah pendatang baru di Indonesia atau bisa dibilang ormas tamu. Seyogyanya tamu harusnya HTI mengikuti aturan main yang diberlakukan tuan rumah, yaitu Indonesia.

HTI tidak mau mengikuti aturan main yang diberlakukan sang tuan rumah, tuan rumah yang mempunyai aturan khusus untuk tamu seperti misalnya tamu tidak boleh merokok sebab sang tuan rumah yang tidak terbiasa mengisap bau rokok dengan alasan kesehatan. Kurang ajarnya, aturan untuk tidak merokok sudah diberlakukan namun sang tamu tetap saja memaksa untuk merokok dengan alasan macam-macam. Itu artinya sang tamu sangat tidak tahu diri dan melanggar aturan yang diberlakukan tuan rumah. Padahal tuan rumah sudah jelas-jelas bilang, rokok tidak baik untuk kesehatan, sebab membahayakan tubuh.


Namun sang tamu tetap ngotot nggak mau tahu. Bahayanya sang tamu malah berkeinginan mendirikan pabrik rokok dirumah sang tuan rumah itu. Jika sang tamu tetap ngotot mendirikan pabrik rokok tersebut dengan rokok cap “Ok Oce“, mau nggak mau tuan rumah harus angkat kaki dari rumahnya sendiri.

Ini sangat kurang ajar kan? Tentu sangat kurang ajar, sebab sudah diberikan izin untuk bertamu, tapi tidak mau mengikuti aturan tata tertib yang dibuat tuan rumah. Ehh malah ngrampok rumah sang pemilik rumah untuk pendirian pabrik rokok cap “Ok Oce“.

Hal tersebut sama persis dengan apa yang dilakukan HTI saat ini. Sudah diizinkan datang ke Indonesia, kemudian mendirikan organisasi. Namun HTI tidak mau mengakui Pancasila sebagai dasar Ideologi negara. Malah menghina Pancasila dan mau menggantikannya dengan khilafah.

HTI, kamu waras??? Kalau HTI waras ya tidak waras karena HTI hanya sebuah nama, yang tidak waras itu para pendiri dan pelakunya. Jadi wajar saja jika banyak kelompok elemen masyarakat menolak keberadaan HTI di Indonesia.


Terutama Gerakan Pemuda (GP) Ansor yang selalu getol menolak dan melawan gerakan radikal HTI yang sangat membahayakan NKRI. GP Ansor berada digarda depan dalam melawan ideologi alias paham radikalisme yang dibawa oleh HTI.

Ketum GP Ansor Sebut HTI Usianya tidak akan lama lagi

Pengurus Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor berkomitmen mempertahankan ideologi Pancasila sebagai dasar negara. Pihaknya siap menjadi garda terdepan melawan kelompok radikal yang ingin mengubah Indonesia menjadi negara Islam. Hal itu dianggap bertentangan karena negara ini menganut ideologi Pancasila.

Menurut Ketua Umum PP GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas, ideologi Pancasila harus tetap dipertahankan demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jika ada kelompok radikal atau intoleran yang macam-macam, pihaknya mengaku siaphead to head. Pernyataan Yaqut tersebut disampaikan saat acara Tasyakuran Harlah ke-83 Gerakan Pemuda Ansor dengan tema “Meneguhkan Semangat Kebangsaan, Membawa Khazanah Islam Nusantara untuk Perdamaian Dunia” di Kantor PP GP Ansor Jakarta.

“Ansor siap berhadapan dengan kelompok intoleran, kelompok ideologi impor negara lain yang masuk ke Indonesia,” tegas Yaqut, Sabtu (6/5).

Acara dihadiri Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj, Dewan Penasihat PP GP Ansor KH As’ad Said Ali, Sinta Nuriyah Wahid (Istri Gus Dur) dan Wakil Sekjen DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah.

Pria kelahiran Rembang ini mengemukakan, kesiapan GP Ansor untuk mengadang kelompok intoleran juga atas saran KH Said Aqil Siradj. Bahkan, dia juga menyinggung organisasi masyarakat (Ormas) yang dianggap intoleran. Ormas itu adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Menurut Yaqut, organisasi itu dalam waktu dekat akan mati. “Ini saya disuruh baca pidato pakai teks, kalau tidak bisa ke mana-mana bisa ngomong bubarin HTI. Tenang saja tidak lama lagi HTI akan almarhum,” katanya.

Pihaknya tak ingin Indonesia hancur gara-gara kelompok radikal. Dia mencontohkan, Suriah saat ini banyak terjadi teror karena ada kelompok intoleran yang ingin mendirikan khilafah di sana. Imbasnya, saat ini Suriah sedang dilanda konflik perang dengan ISIS.

“Kami tidak akan membiarkan keruntuhan kerajaan Sriwijaya dan Majapahit terulang kembali dan tak membiarkan Indonesia luluh lantah seperti Suriah,” tutup dia.

Sumber: beritasatu.com